Mozart Sym 40

Aku, tubuhku, dan jari-jemariku melebur dalam sebuah harmonisasi melodi. Simphoni abadi yang takkan pernah mati. Walau dirimu kini tiada lagi.

“Aku, tubuhku, dan jari-jemariku melebur dalam sebuah harmonisasi melodi. Simphoni abadi yang takkan pernah mati. Walau dirimu kini tiada lagi”

Gelap.. gelap sekali” gumamku di dalam hati. Aku tak dapat berkata-kata, hanya dapat merasakan saja. Takut… itu yang kurasakan. Tiba-tiba aku melihat secercah cahaya diujung sana, jauh sekali nampaknya. Aku yang begitu merasa takut dalam kegelapan, berlari menyongsong cahaya itu. Aku terus berlari tanpa henti, hingga terasa cahaya itu semakin dekat… semakin dekat…  lebih dekat  dan..

“Sita.. Sita sayang, ayo bangun nak. Mama capek bangunin kamu pake teriak-teriak dari tadi! Sudah jam tujuh loh, ntar telat kesekolah” suara Mama memecah kesunyian di kamarku.
“Iya Mamaku sayaaang, ini Sita udah bangun kok Ma” sahutku sembari mengerjap-ngerjapkan mata, menunggu nyawa ini kembali seratus persen ke asal semulanya.
“Yaudah, cepat mandi sana.. terus cepat sarapan dan berangkat ke sekolah” perintah Mama.

Namaku Sita.. lengkapnya Desita Natalia Gabriela. Aku seorang gadis 17 tahun dengan tinggi 155 cm dan berat badan 48 kilogram. Aku suka bermain piano dan musik klasik. Aku suka cheeseball dan phobia gelap. Yang berteriak tadi itu Mamaku. Seorang wanita usia kepala empat yang sering ngomel pagi-pagi. Hobinya memasak dan bernyanyi. Tak heran kalau beliau membangunkan aku, suara nyaring ber-oktaf 8 memecah gendang telingaku. Meskipun begitu, aku sangat menyayanginya.

Setelah nyawaku benar-benar terkumpul, aku bergegas mandi, lalu bersiap menggunakan seragam sekolahku, lalu turun ke ruang makan untuk sarapan dan bergegas berangkat ke sekolah.
“Ma.. Sita berangkat dulu ya?” pamitku dengan sedikit terburu-buru.
“Iya nak, hati-hati dijalan, yang pintar ya di sekolah” ucap Mama.

Aku pun berangkat ke sekolah dengan berjalan kaki. Sekolahku tidak terlalu jauh dari rumah, jaraknya hanya sekitar satu kilometer saja. Kalau kalian beranggapan aku akan bosan berjalan kaki, kalian salah besar.. aku malah senang berjalan kaki menuju sekolah karena di perjalanan aku bisa menghirup udara sejuk, melewati perkebunan teh yang hijau, dan menikmati pemandangan alam sekitar yang masih sangat asri.
Tiba-tiba pandanganku tertuju pada sebuah gubuk aneh dibalik kebun teh di seberang jalan. Entahlah, tempat itu mengingatkanku padanya. Pada dia yang terus berada di pikiranku, dia yang menjagaku, melindungi dan menyayangiku−yah kau tahu−seorang yang begitu berarti bagiku.
“Sudahlah.. kamu mikir apa sih Sita! Lupakan dia dulu! Kamu hampir telat kesekolah tau!” kata hatiku memecah lamunanku, seakan membangunkanku dari mimpi seketika itu juga. Lalu aku berlari menuju ke sekolah. SMA CIPUTRA−itu sekolahku.

***

“Sita!.. Sita! Tungguin gue” teriak Vino memanggilku dari kejauhan.
“Ada apa Vin? Aku buru-buru mau ke kantin nih, laper banget aku.. ntar lagi ada pelajaran geografi kan, aku butuh energi banyak buat ngadepin si guru killer tuh” terangku.
Gue ikut deh ya, sekalian juga.. gue ada informasi buat elo” kata Vino sok penting.

Oh iya, aku lupa mengenalkannya. Nama dia Vino, dia sahabatku sejak dari SMP. Badannya tinggi, atletis, lumayan tampan dengan hidung mancung dan kulitnya yang cerah bersih, logat bicaranya sok ke-Jakartaan. Maklum, dia penggemar FTV remaja yang ditayangkan di televisi hampir setiap hari pukul 4 sore.

“Yaudah.. ayo cepetan, keburu bel masuk Vin” kataku sambil menarik lengannya.
“Santai aja keleus, bel masuk masih 10 menit lagi” sanggah Vino dengan ogah-ogahan.

Begitu sampai di kantin, mataku langsung tertuju pada sebuah stan bakso di pojok ruangan. Kami berdua pun menuju ke stan tersebut dan memesan makanan. Ketika sedang menunggu pesanan datang, Vino tiba-tiba mengajakku bicara serius.

“Sita, gue ada info penting buat lo” kata Vino dengan serius.
“Info apa? Kalo gak penting-penting banget aku jitak kamu ya? hehe” selorohku.
Gue serius.. ada lomba bermain piano di Graha Serba Guna, hadiahnya lumayan loh Ta, dua puluh juta untuk pemenang pertama. Penyelenggara lombanya dari klub musik Victoria. Lo harus ikut Ta, kesempatan emas buat gali potensi lo, buat pengalaman lah” terang Vino dengan semangat ’45 yang menggebu-gebu.
“Aku sih mau Vin, tapi aku nggak PD.. lagipula aku bingung harus menampilkan lagu apa”
Elo kan jago mainin lagu-lagunya Mozart tuh. Terserah lo mau main Mozart Eine Kleine kek, Mozart Symphony No.22, Mozart Symphony No.40, terserah lo deh. Gue yakin lo bisa menang Ta” kata Vino menyemangatiku.

Mozart Symphony 40??”. Hatiku tersentak mendengar judul lagu itu. Aku terdiam beberapa saat. Tiba-tiba aku teringat padanya. Dia pernah memainkan lagu itu untukku. Sungguh indah melodi itu mengalun merdu di telingaku, aku masih bisa mendengarnya menggema di pikiranku. Jari-jarinya yang menari di atas tuts piano pun masih tergambar jelas di kepalaku. Indah sekali…

“Ta? Sita? Wooooiii!!” Vino mengagetkanku.
“AAAaa! Aapaan sih! Kaget tau!” omelku sebal.
“Bel masuk udah bunyi tuh.. jangan ngelamun mulu, kita kudu masuk kelas nih”

Tanganku langsung digandeng Vino dan langsung ditariknya. Kami berdua pun berlari menuju ke kelas dan bersiap mengikuti pelajaran. Namun, bayangan itu belum beranjak dari pikiranku. Dia masih disana. Aku terus memikirkannya.

***

Kriiiiiiiinggg… Kriiingggg… Kriiiiiiiiiiiiiiinnngg….

Bel sekolah berbunyi. Itu tandanya, pelajaran telah usai dan kami boleh beranjak pulang ke rumah. Seperti biasa, aku pulang diantar Vino. Sesampainya dirumah, aku terkejut melihat mamaku terduduk lemas di kursi teras, aku pun segera menghampirinya.

“Mama? Mama kok nangis? Debtcollector itu datang lagi ya ma?” tanyaku dengan kaget.
“Ah, mama gak apa-apa kok sayang. Kamu nggak usah mikirin debtcollector itu, tugasmu itu belajar yang rajin, biar mama yang memikirkan hutang-hutang almarhum papa” kata Mama sambil sedikit terisak.

Aku pun membimbing mama ke kamar untuk istirahat dan membuatkannya sup ayam. Mamaku sering membuatkanku sup ayam ketika aku terbaring sakit, rasanya yang gurih dan hangat membuatku merasa lebih baik. “Aku harus membantu Mama, kasihan dia” ucapku yang teringat akan masalah hutang yang membelit keluarga kami.

Lalu aku menuju ruang keluarga dan mulai berlatih. Aku memainkan lagu Mozart Symphony 40. Saat memainkan lagu itu, aku teringat dia. Remaja laki-laki berwajah manis yang kupanggil Dean. Dia sering memainkan lagu ini untukku. Dia sabar dan penuh perhatian. Walau seringkali aku tak memperhatikannya sehingga aku tak dapat memainkan lagu Mozart ini dengan sempurna. Tapi, sekarang hanya aku sendiri.. dia pergi.. meninggalkanku. Tiba-tiba air mataku menetes, jari-jariku yang menari diatas tuts piano terasa panas. Dahulu ataupun sekarang, ternyata aku masih belum bisa memainkannya dengan sempurna. “Aku nggak bisa! Aku nggak bisa!! Dean.. kamu kemana?”

***

“Ta? Gimana? Jadi ikut lomba itu kan?” tanya Vino sambil melahap es krim coklat kesukaannya.
“Entah.. aku ragu Vin, aku gak pede. Lagipula permainanku belum bagus” jawabku.
“Kalo latihan terus pasti bakal bagus kok Ta, gue yakin seyakin-yakinnya meskipun kurang yakin seratus persen, demi membuat keyakinan lo tumbuh, gue berusaha yakin untuk meyakinkan lo kalo lo itu bisa!”.
“Banyak amat “yakin”-nya??. Yaudah, aku ikut. Tapi kamu temenin aku latihan ya?”.
“Waduh Ta, sorry banget yah? Gue ada pertandingan basket minggu depan. Lo latihan sendiri aja ya?”.
“Asem! Aku gak ikut deh! kamu gak setia kawan, masa gak mau nemenin temennya latihan? Aku pulang aja” kataku berlalu meninggalkan Vino yang sibuk dengan es krimnya.

Sesampainya di rumah, aku terkejut melihat barang-barang di depan rumah berserakan. Tiba-tiba Mamaku jatuh tersungkur ke teras sambil menangis. Aku pun berlari menghampirinya.

“Ma! Mama?! Mama gak apa-apa kan? Mama, jangan nangis” kataku sambil menghapus air mata Mama.

“Kalo gak bisa bayar jangan utang! Suamimu itu meminjam uang banyak tapi malah gak bayar! Sekarang kamu bayar dengan seluruh bunganya!” teriak salah seorang debtcollector.

“Bapak jangan kasar ya sama Mama saya! Saya akan bayar hutang-hutangnya seminggu lagi. Saya janji.. tapi tolong bapak-bapak semua keluar dari rumah saya!” ucapku lantang setengah terisak.

“Kalo kamu gak bisa bayar, minggu depan kalian keluar dari rumah ini!” ancam debtcollector itu sambil berlalu meninggalkan kami yang tersungkur di teras.

“Mama jangan khawatir, aku akan bantu Mama cari uang” kataku sambil mengusap air mata mama.

Aku tak tahu lagi harus bagaimana, pikiranku benar-benar kacau. Satu-satunya jalan adalah mengikuti lomba itu. “Aku harus bisa” gumamku.. “Aku harus bisa demi Mama”.

***

Tekadku sudah bulat. Aku berlatih terus tanpa henti, hanya diiringi detak jarum jam, ditemani segelas coklat panas bikinan Mama. Aku terus berlatih.. berlatih.. dan berlatih. Rasanya hanya kata itu yang terprogram di dalam kepalaku. Hari demi hari aku terus berlatih. Walau tak seorang pun menyemangatiku, aku tak merasa sedih sama sekali. Karena setiap pagi ada yang mengirimkan kartu ucapan semangat untukku. Aku tak tahu dia siapa, entahlah.. mungkin Vino atau mungkin pengagum rahasiaku. Tapi semua itu cukup membuatku tegar dan bersemangat untuk berlatih. Hingga tiba saatnya, lomba itu dimulai.

“Luar biasa pertunjukan dari peserta nomor 21! Beri tepuk tangan yang meriah!.. baiklah, peserta nomor 22 akan memainkan satu lagu dari Mozart, Symphony No.40” kata pembawa acara mengumumkan giliranku.

“Fiuuuhhh… aku harus bisa. Tuhan, tolong berkatilah anak-Mu. Amin” doaku seraya mengontrol rasa gugup yang membuncah begitu hebat.

Aku pun memasuki panggung dan bersiap di samping piano. Aku letakkan jari-jariku diatas tuts piano dan mulai memainkannya. Aku mulai gugup. Tetapi mendengar melodi yang ku mainkan ini, membuat perasaan itu kembali lagi. Perasaan hangat kembali menyelimuti kaki dan tanganku. Bayangan wajah Dean ada di benakku. Yang ku ingat adalah saat kita berdua bersepeda melewati kebun teh, lalu beristirahat di gubuk aneh di dekat rumahku, berlatih piano bersama, dan main basket bersama. Semua itu seperti rangkaian film yang diputar di otakku, terlintas jelas di depan mataku. Tak terasa jari-jariku dengan indah dan begitu gemulainya menari begitu lincah di atas tuts piano. Aku memainkannya dengan sempurna! Aku sungguh tak percaya. “Terima kasih ya Tuhan….”

Aku begitu senang, aku dapat memainkan lagu itu dengan sempurna, dan kini tinggal menunggu pengumuman pemenang.

“Akhirnya sampailah kita di penghujung acara lomba ini, juri telah selesai berdiskusi dan menentukan siapa juaranya. Baiklah.. juara ketiga diraih oleh…peserta nomor 18, atas nama  Florencia Angel”

Jantungku berdegup kencang, bagai kuda diarena pacuan. Tubuhku bergetar, aku cemas sekali. Lantunan doa tak henti-hentinya menggema di dalam hati.

“Juara kedua diraih oleh…. Peserta nomor 14, atas nama Geovanda Widiastuti”

Ternyata juara kedua bukanlah aku, dan nampaknya juara satu tak mungkin kuraih. Aku sempat putus asa dan berpikir aku telah gagal, sampai pada akhirnya…

“Juara pertama diraih oleh… peserta nomor 22, atas nama Desita Natalia Gabriela” kata pembawa acara menyebutkan namaku.

“Yeeeeeeyyy!! Aku bisa, aku menang!, aku bisa Mama.. aku bisa Dean” teriakku dalam hati. −kalau ini bukan acara yang formal, mungkin aku sudah berteriak kegirangan.

Aku tak menyangka aku memenangkan lomba itu. Aku sungguh sangat bersyukur. Akhirnya hutang-hutang keluargaku dapat terlunasi. Dan dalam hati kecilku, aku berharap Dean disini, aku ingin menunjukkan padanya bahwa aku telah berhasil memainkan lagu itu dengan sempurna, persis seperti yang ia harapkan. “Dean.. Dean Seamus.. dimanakah kamu sekarang?”

***

Aku lega, kini debtcollector itu tak datang lagi. Hidupku dan keluargaku kembali tenang. Walau hati ini masih bergemuruh, tapi aku senang sekali semuanya telah kembali normal. Tiba-tiba aku melihat bayangan seorang laki-laki di gubuk dekat rumah. Aku penasaran, tampaknya dia gusar, sedang mencari sesuatu, menunggu sesuatu, atau mungkin memikirkan sesuatu. Entahlah.. aku merasa dia tidak asing bagiku, dan  aku pun memberanikan diri menghampirinya.

“Dean?!.. kamu kah itu? Dean Seamus??!!” kataku kaget.
Yes sweetie, It’s me.. I’m back for you dear.” Jawab Dean dengan senyum manis di wajahnya.
“Kemana kamu selama ini!? Aku mencarimu kemana-mana! Kenapa kamu ninggalin aku begitu saja?! Kamu jahat!” kataku berlinang air mata.
“Aku pergi ke Jakarta. Aku sakit. Kanker sum-sum tulang belakang Ta, aku rahasiakan ini karena aku gak mau kamu khawatir. Tapi, sekarang aku udah disini kan? Aku akan nemenin kamu terus selama yang kamu mau” kata Dean, tangannya memegang erat tanganku dan berusaha menenangkanku.
“Jangan tinggalin aku lagi ya?” isakku.
“Pasti sayang.. Aku gak akan ninggalin kamu lagi. Aku akan selalu dihatimu”

***

Akhirnya hidupku benar-benar sempurna, Dean kembali padaku. Aku sungguh bahagia. Kami berdua sering jalan-jalan bersama, nonton film, minum coklat panas sambil bermain permainan monopoli. Dan sekarang aku pun pergi ke taman hiburan bersamanya. Sungguh menyenangkan rasanya.

“Ta, naik kincir ria yuk.. Pasti seru deh” ajak Dean
“Nggak, kita istirahat dulu aja.. mukamu pucat tuh, kamu kelihatan capek” kataku menolak.
“Ayolah Ta, aku ingin naik itu, pasti bagus pemandangan diatas sana” rayu Dean
“Baiklah..” kataku yang akhirnya luluh oleh rayuannya.

Kami pun segera naik kincir ria. Semakin lama semakin tinggi, dan kini kami berhenti tepat diposisi paling tinggi.

“Ta, terima kasih ya? Kamu udah buat sisa-sisa hariku begitu menyenangkan, aku takkan mungkin bisa melupakannya” kata Dean sambil menyadarkan kepalanya di bahuku.
“Sama-sama Dean” jawabku sambil mengusap lembut rambutnya.
“Oya, selamat ya Ta, akhirnya symphony No.40 itu berhasil kamu mainkan dengan sempurna, aku bangga sama kamu” ucap Dean lembut.
“Darimana kamu tahu?” kataku terheran.
“Selama ini yang mengirim kartu ucapan semangat itu aku, dan aku pun datang ke acara itu, aku melihatmu bermain dan akhirnya memenangkan lomba itu. Aku senang melihatmu bermain, aku ingin kamu memainkan itu di hari terakhirku”
“maksudmu apa Dean?” kataku terkejut, aku tak mengerti apa yang dimaksud olehnya.
“Dean?… Dean?” Namun Dean tak menjawab, dia tertidur. Dia tidur untuk selamanya.

Dihari pemakaman Dean, Aku memainkan lagu itu untuknya. Seperti yang diinginkannya.
“Aku persembahkan Mozart Symphony 40 ini untukmu Dean, selamat jalan. Jari-jari ini takkan pernah berhenti memainkan sebuah lagu untukmu. Untuk kenangan yang terlalu indah tuk dilupakan. Untuk seruan semangat yang menggema dihati. Untuk harmoni melodi seindah simphoni”

-TAMAT-

Advertisements

2 thoughts on “Mozart Sym 40

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s