Arti Memberi (open mind series)

Hidup-Untuk-MemberiHari minggu pagi itu dingin sekali. Semua orang bergegas memasuki sebuah restoran cepat saji. Sembari sarapan, tentu saja orang-orang yang masuk ke resto cepat saji ini hendak menghangatkan tubuhnya. Berada didepanku, seorang pria berpakaian kumal dan jenggot tak beraturan. Dia menghitung uang receh ditangannya.”Cukup untuk beli kopi” ujarnya sambil tersenyum.kopi panas terhidang. Dia mengambil nampan dan meletakkan secangkir kopi di atas nampan. Ia berlalu sembari melempar senyum padaku.

Tiba didepan kasir, aku memesan dua paket makan pagi untuk aku dan kakakku. Sembari menunggu paket pesananku disiapkan, aku melirik earah pria tadi duduk. Disampingnya ada seorang pria lain yang lebih tua. Tangannya gemetar hendak menyeruput kopi tadi. Pria yang pertama seolah sedang menceritakan sesuatu padanya dengan penuh semangat. Aku memalingkan wajahku kembali. Tiba-tiba pelupuk mataku terasa panas. Ketika pramusaji meletakkan nampan berisi paket sarapan pesananku, aku memesan dua paket makanan lagi. Aku mengambil nampan tadi dan meletakkan dua paket makanan di meja kedua pria itu.

Aku kembali ke kasir dan mengambil dua paket pesananku yang lain. Setelah itu,aku berjalan ke meja tempat kakakku menunggu. Kakakku hanya tersenyum. Aku merasa tenang karenanya.

Ketika menikmati makanan kami, sosok tubuh berdiri dihadapan kami dan bersuara, “terima kasih. Maaf kami tadi lupa mengucapkan terima kasih karena kami sangat terkejut. Sebenarnya kami memang hanya berniat menghangatkan tubuh karena kami tidak ada cukup uang untuk makan pagi. Tapi anda telah menjadi malaikat bagi kami. Sekali lagi terima kasih.” Sembari memamerkan senyum indahnya, pria itu memegang tanganku dan menjabat tangan kakakku. Tubuhnya berbalik dan pergi. Kami melanjutkan makan dalam diam. Namun, didalam hatiku ada sesuatu yang membuncah… Minggu pagi itu tak pernah terlupakan…

Cara Membuat Bedak Dingin

vhh

Cara Membuat Bedak Dingin sangat mudah sekali untuk dipraktekan sendiri dirumah. Selain ekonomis dan terjaga kebersihannya. kita juga bisa menjadikannya sumber pendapatan :). Kita sering temui Bedak Dingin di toko2 kosmetik, selain harganya yang terjangkau bagi semua kalangan,manfaatnya juga ga kalah dengan perawatan yang serba mahal 😛

Bahan-bahan yg diperlukan adalah

1.50 gr beras biasa
2.Wadah plus tutupnya

Caranya:
•Cuci beras dan masukan kewadah lalu beri air dan tutup rapat, simpan ditempat yang aman dari maling. hehehe 😛

•Seminggu sekali tukar airnya dengan air bersih yang baru, kebayang bauknya seperti apa? cium aja ndiri!Jangan muntah dulu kalau udah cium bauknya, itukan peroses permentasi. siip

•Pastikan lama pembuatannya yaitu 40 hari, wow….. lamanya!… namanya juga resep traditional! Kalau yang cepet itu namanya instan, 😛

•Setelah 40 hari ( kayak orang habis melahirkan aja ya pake 40 hari segala, heheheh)

•Tiriskan mengunakan kain tipis, misal sifon.

•Siapkan wadah yang berisi air bersih lalu remes2 mie kremesnya, eh salah… maksudnya beras yang didalam kain tadi itu loh hingga hancur semua ya.

•Bisa juga tambahkan parutan bengkoang

•Kalau sudah hancur semua lalu diendapkan agar bisa dibuang airnya. nah sekarang berasnya sudah bisa dibulet2in kan kayak pilus gitu. jemur ditaburin dulu pake bunga2 yang wangi, dan tutup pake kain agar tidak mudah pecah2.

•Simpan diwadah tertutup

•Gunakan sebagai bedak dingin saat panas, sebagai masker dimalam hari. suka2 deh pokok e. kalau ga malu Juga bisa dipake saat mau ke mall. hihihihi

OPEN MIND: Mama Jangan Benci Aku

Beberapa waktu lalu aku membaca cerita yang benar-benar menyentuh.. bagi kalian-kalian, remaja cewek-cewek, calon ibu, jangan pernah lakukan hal ini pada anak-anakmu nanti ya..

Ini dia ceritanya:…

Dua puluh tahun yang lalu saya melahirkan seorang anak laki-laki,
wajahnya lumayan tampan namun terlihat agak bodoh.
Sam, suamiku, memberinya nama Eric. Semakin lama semakin nampak jelas bahwa anak ini memang agak terbelakang.
Saya berniat memberikannya kepada orang lain saja untuk dijadikan budak atau pelayan. Namun Sam mencegah niat buruk
itu. Akhirnya terpaksa saya membesarkannya juga. Di tahun kedua setelah Eric dilahirkan saya pun melahirkan kembali
seorang anak perempuan yang cantik mungil. Saya menamainya Angelica. Saya sangat menyayangi Angelica, demikian
juga Sam. Seringkali kami mengajaknya pergi ke taman hiburan dan membelikannya pakaian anakanak
yang indahindah.
Namun tidak demikian halnya dengan Eric. Ia hanya memiliki beberapa stel pakaian butut. Sam berniat membelikannya,
namun saya selalu melarangnya dengan dalih penghematan uang keluarga. Sam selalu menuruti perkataan saya.
Saat usia Angelica 2 tahun Sam meninggal dunia. Eric sudah berumur 4 tahun kala itu. Keluarga kami menjadi semakin
miskin dengan hutang yang semakin menumpuk. Akhirnya saya mengambil tindakan yang akan membuat saya menyesal
seumur hidup. Saya pergi meninggalkan kampung kelahiran saya beserta Angelica. Eric yang sedang tertidur lelap saya
tinggalkan begitu saja. Kemudian saya tinggal di sebuah gubuk setelah rumah kami laku terjual untuk membayar hutang.
Setahun, 2 tahun, 5 tahun, 10 tahun.. telah berlalu sejak kejadian itu.
Saya telah menikah kembali dengan Brad, seorang pria dewasa. Usia Pernikahan kami telah menginjak tahun kelima.
Berkat Brad, sifatsifat
buruk saya yang semula pemarah, egois, dan tinggi hati, berubah sedikit demi sedikit menjadi lebih
sabar dan penyayang. Angelica telah berumur 12 tahun dan kami menyekolahkan dia di asrama putri sekolah perawatan.
Tidak ada lagi yang ingat tentang Eric dan tidak ada lagi yang mengingatnya.
Sampai suatu malam. Malam di mana saya bermimpi tentang seorang anak. Wajahnya agak tampan namun tampak pucat
sekali. Ia melihat ke arah saya. Sambil tersenyum ia berkata, “Tante, Tante kenal mama saya? Saya lindu cekali pada
Mommy!” Setelah berkata demikian ia mulai beranjak pergi, namun saya menahannya, “Tunggu… sepertinya saya
mengenalmu.
Siapa namamu anak manis?”
“Nama saya Elic, Tante.”
“Eric? Eric… Ya Tuhan! Kau benarbenar
Eric?”
Saya langsung tersentak dan bangun. Rasa bersalah, sesal dan berbagai perasaan aneh lainnya menerpa diri saya saat itu
juga. Tibatiba
terlintas kembali kisah ironis yang terjadi dulu seperti sebuah film yang diputar dikepala saya. Baru sekarang
saya menyadari betapa jahatnya perbuatan saya dulu.Rasanya seperti mau mati saja saat itu. Ya, saya harus mati…, mati…,
mati… Ketika tinggal seinchi jarak pisau yang akan saya goreskan ke pergelangan tangan, tibatiba
bayangan Eric melintas
kembali di pikiran saya. Ya Eric, Mommy akan menjemputmu Eric…
Sore itu saya memarkir mobil biru saya di samping sebuah gubuk, dan Brad dengan pandangan heran menatap saya dari
samping.
“Mary, apa yang sebenarnya terjadi?”
“Oh, Brad, kau pasti akan membenciku setelah saya menceritakan hal yang telah saya lakukan dulu.” Tapi aku
menceritakannya juga dengan terisakisak…
Ternyata Tuhan sungguh baik kepada saya. Ia telah memberikan suami yang begitu baik dan penuh pengertian. Setelah
tangis saya reda, saya keluar dari mobil diikuti oleh Brad dari belakang. Mata saya menatap lekat pada gubuk yang
terbentang dua meter dari hadapan saya. Saya mulai teringat betapa gubuk itu pernah saya tinggali beberapa bulan
lamanya dan Eric.. Eric… Saya meninggalkan Eric di sana 10 tahun yang lalu. Dengan perasaan sedih saya berlari
menghampiri gubuk tersebut dan membuka pintu yang terbuat dari bambu itu. Gelap sekali… Tidak terlihat sesuatu apa pun!
Perlahan mata saya mulai terbiasa dengan kegelapan dalam ruangan kecil itu. Namun saya tidak menemukan siapapun
juga di dalamnya. Hanya ada sepotong kain butut tergeletak di lantai tanah.
Saya mengambil seraya mengamatinya dengan seksama… Mata mulai berkacakaca,
saya mengenali potongan kain
tersebut sebagai bekas baju butut yang dulu dikenakan Eric sehariharinya.
.. Beberapa saat kemudian, dengan perasaan
yang sulit dilukiskan, saya pun keluar dari ruangan itu… Air mata saya mengalir
dengan deras. Saat itu saya hanya diam saja. Sesaat kemudian saya dan Brad mulai menaiki mobil untuk meninggalkan
tempat tersebut. Namun, saya melihat seseorang di belakang mobil kami. Saya sempat kaget sebab suasana saat itu gelap
sekali. Kemudian terlihatlah wajah orang itu yang demikian kotor. Ternyata ia seorang wanita tua. Kembali saya tersentak
kaget manakala ia tibatiba
menegur saya dengan suaranya yang parau.
“Heii…! Siapa kamu?! Mau apa kau kemari?!”
Dengan memberanikan diri, saya pun bertanya, “Ibu, apa ibu kenal dengan seorang anak bernama Eric yang dulu tinggal di
sini?” Ia menjawab, “Kalau kamu ibunya, kamu sungguh perempuan terkutuk! Tahukah kamu, 10 tahun yang lalu sejak kamu
meninggalkannya di sini, Eric terus menunggu ibunya dan memanggil, ‘Mommy…, mommy!’ Karena tidak tega, saya
terkadang memberinya makan dan mengajaknya tinggal Bersama saya. Walaupun saya orang miskin dan hanya bekerja
sebagai pemulung sampah, namun saya tidak akan meninggalkan anak saya seperti itu! Tiga bulan yang lalu Eric
meninggalkan secarik kertas ini. Ia belajar menulis setiap hari selama bertahuntahun
hanya untuk menulis ini untukmu…”

Saya pun membaca tulisan di kertas itu…
“Mommy, mengapa Mommy tidak pernah kembali lagi…?
Mommy marah sama Eric, ya? Mom, biarlah Eric yang pergi saja, tapi Mommy harus berjanji kalau Mommy tidak akan marah
lagi sama Eric. Bye, Mom…” Saya menjerit histeris membaca surat itu.
“Bu, tolong katakan… katakan di mana ia sekarang? Saya berjanji akan meyayanginya sekarang! Saya tidak akan
meninggalkannya lagi, Bu! Tolong katakan..!!”
Brad memeluk tubuh saya yang bergetar keras.
“Nyonya, semua sudah terlambat. Sehari sebelum nyonya datang, Eric telah meninggal dunia. Ia meninggal di belakang
gubuk ini. Tubuhnya sangat kurus, ia sangat lemah. Hanya demi menunggumu ia rela bertahan di belakang gubuk ini tanpa
ia berani masuk ke dalamnya. Ia takut apabila Mommynya
datang, Mommynya
akan pergi lagi bila melihatnya ada di dalam
sana … Ia hanya berharap dapat melihat Mommynya
dari belakang gubuk ini… Meskipun hujan deras, dengan kondisinya
yang lemah ia terus bersikeras menunggu Nyonya di sana .
Nyonya,dosa anda tidak terampuni!”
Saya kemudian pingsan dan tidak ingat apaapa
lagi. (kisah nyata di irlandia utara)
Source: ebook kumpulan motivasi

Produk Perawatan Wajah yang Wajib Kamu Punya

cara-perawatan-wajah-alami

Siapa bilang untuk mendapatkan wajah bersih dan terawat harus merogoh kocek dalam??
untuk kalangan remaja seperti kita, bisa kok dapat kulit cantik terawat dengan perawatan yang sederhana dan juga pas di kantong kita-kita girls. ini dia produk perawatan wajah yang wajib kamu punya. Check it out! ^_^

1. Pembersih Wajah

Hal yang paling utama bila ingin mempunyai kulit wajah yang sehat adalah dengan menjaga kebersihan dari kulit wajah itu sendiri. Setelah menggunakan pembersih makeup untuk menghapus makeup-mu, jangan lupa untuk membersihkan kulit wajahmu kembali dengan sabun pembersih wajah. Sabun pembersih wajah berfungsi untuk membersihkan sisa debu, keringat, dan sisa kosmetik yang tidak terangkat oleh pembersih makeup.

2. Toner

Toner berfungsi untuk membersihkan sisa-sisa kotoran yang tidak terangkat oleh pembersih makeup dan wajah. Toner juga berperan untuk mengecilkan pori-pori kulit dan juga menyeimbangkan kadar pH pada wajah. Sebaiknya gunakan toner yang alcohol-free untuk mencegah kulitmu menjadi kering.

3. Serum

Serum mempunyai formula yang ringan sehingga dapat meresap 10 kali lebih cepat dibandingkan dengan pelembap (moisturizer). Serum berfungsi untuk memperbaiki struktur kulit karena serum dapat menembus sampai lapisan kulit terdalam. Dengan menggunakan serum secara rutin, kulit akan terlihat lebih kenyal dan sehat. Biarkan serum meresap sempurna sebelum menggunakan item selanjutnya.

4. Eye Cream

Kulit di sekitar mata membutuhkan perhatian ekstra karena memiliki jaringan kulit yang lebih tipis dibandingan bagian kulit lainnya pada wajah. Eye cream dirancang khusus untuk memberikan hidrasi lebih karena area kulit di sekitar mata ini umumnya cenderung kering. Eye Cream juga berguna untuk mengurangi dark circle dan kerutan pada daerah mata.

5. Pelembap

Pelembap berfungsi untuk membantu kulit menjaga kadar air dan membuatnya tetap lentur. Pelembap tidak hanya wajib digunakan oleh kamu yang memiliki kulit kering, tapi juga kulit berminyak dan kombinasi. Oleh karena itu, jangan pernah lewatkan pelembap dan Pilihlah yang sesuai dengan tipe kulitmu.

Gunakan 5 item di atas secara bertahap, mulai dari pembersih wajah, toner, serum, eye creamdan pelembap pada pagi dan malam untuk mendapatkan kulit wajah yang senantiasa sehat dan cerah.

OPEN MIND: Pelajaran Berharga Dalam Kehidupan

suwardi sdg menyapu fin radar

Waktu itu aku sedang ada mata kuliah ekonomi. Dan seperti biasanya, sebelum memulai pelajaran, dosen memberikan soal kuisioner yang isinya berupa soal-soal pengetahuan umum.
Seluruh murid pun mengerjakannya dengan tenang. Seperti biasanya, aku selalu dapat menjawab semua soal-soal tersebut, sampai akhirnya aku terhenti ketika hendak menjawab pertanyaan terakhir. Pertanyaan tersebut berbunyi demikian “siapa nama depan ibu tukang sapu di taman belakang?”. Pertanyaan ini membuatku ingin tertawa, aku tahu siapa ibu ini.. dia adalah wanita berkulit gelap yang sering tersenyum padaku setiap paginya, tapi aku tak tahu siapa namanya. Karena ragu, aku pun bertanya pada dosen apakah soal terakhir “dihitung” atau tidak?
“Tentu saja di hitung..” jawab dosenku. Akhirnya kukumpulkan jawabanku−tentu saja dengan jawaban kosong di nomor terakhir. Ketika kelas berakhir, sang dosen pun berkata “tidak seorang pun di kelas ini yang dapat menjawab pertanyaan terakhir yang kuberikan. Apa kalian tahu?, disetiap perjalanan karirmu, setiap orang disekitarmu ikut andil di dalamnya, tak peduli apakah orang itu seorang direktur ternama, atau bahkan tukang sapu sekalipun. perhatikanlah orang-orang di sekitarmu, karena mereka adalah jalan bagimu dalam meraih kesuksesanmu”
Seketika itu pun aku bergegas keluar kelas, ku cari ibu tukang sapu itu di taman, dan aku pun tahu.. nama depannya adalah “Dorothy”.

Mozart Sym 40

Aku, tubuhku, dan jari-jemariku melebur dalam sebuah harmonisasi melodi. Simphoni abadi yang takkan pernah mati. Walau dirimu kini tiada lagi.

“Aku, tubuhku, dan jari-jemariku melebur dalam sebuah harmonisasi melodi. Simphoni abadi yang takkan pernah mati. Walau dirimu kini tiada lagi”

Gelap.. gelap sekali” gumamku di dalam hati. Aku tak dapat berkata-kata, hanya dapat merasakan saja. Takut… itu yang kurasakan. Tiba-tiba aku melihat secercah cahaya diujung sana, jauh sekali nampaknya. Aku yang begitu merasa takut dalam kegelapan, berlari menyongsong cahaya itu. Aku terus berlari tanpa henti, hingga terasa cahaya itu semakin dekat… semakin dekat…  lebih dekat  dan..

“Sita.. Sita sayang, ayo bangun nak. Mama capek bangunin kamu pake teriak-teriak dari tadi! Sudah jam tujuh loh, ntar telat kesekolah” suara Mama memecah kesunyian di kamarku.
“Iya Mamaku sayaaang, ini Sita udah bangun kok Ma” sahutku sembari mengerjap-ngerjapkan mata, menunggu nyawa ini kembali seratus persen ke asal semulanya.
“Yaudah, cepat mandi sana.. terus cepat sarapan dan berangkat ke sekolah” perintah Mama.

Namaku Sita.. lengkapnya Desita Natalia Gabriela. Aku seorang gadis 17 tahun dengan tinggi 155 cm dan berat badan 48 kilogram. Aku suka bermain piano dan musik klasik. Aku suka cheeseball dan phobia gelap. Yang berteriak tadi itu Mamaku. Seorang wanita usia kepala empat yang sering ngomel pagi-pagi. Hobinya memasak dan bernyanyi. Tak heran kalau beliau membangunkan aku, suara nyaring ber-oktaf 8 memecah gendang telingaku. Meskipun begitu, aku sangat menyayanginya.

Setelah nyawaku benar-benar terkumpul, aku bergegas mandi, lalu bersiap menggunakan seragam sekolahku, lalu turun ke ruang makan untuk sarapan dan bergegas berangkat ke sekolah.
“Ma.. Sita berangkat dulu ya?” pamitku dengan sedikit terburu-buru.
“Iya nak, hati-hati dijalan, yang pintar ya di sekolah” ucap Mama.

Aku pun berangkat ke sekolah dengan berjalan kaki. Sekolahku tidak terlalu jauh dari rumah, jaraknya hanya sekitar satu kilometer saja. Kalau kalian beranggapan aku akan bosan berjalan kaki, kalian salah besar.. aku malah senang berjalan kaki menuju sekolah karena di perjalanan aku bisa menghirup udara sejuk, melewati perkebunan teh yang hijau, dan menikmati pemandangan alam sekitar yang masih sangat asri.
Tiba-tiba pandanganku tertuju pada sebuah gubuk aneh dibalik kebun teh di seberang jalan. Entahlah, tempat itu mengingatkanku padanya. Pada dia yang terus berada di pikiranku, dia yang menjagaku, melindungi dan menyayangiku−yah kau tahu−seorang yang begitu berarti bagiku.
“Sudahlah.. kamu mikir apa sih Sita! Lupakan dia dulu! Kamu hampir telat kesekolah tau!” kata hatiku memecah lamunanku, seakan membangunkanku dari mimpi seketika itu juga. Lalu aku berlari menuju ke sekolah. SMA CIPUTRA−itu sekolahku.

***

“Sita!.. Sita! Tungguin gue” teriak Vino memanggilku dari kejauhan.
“Ada apa Vin? Aku buru-buru mau ke kantin nih, laper banget aku.. ntar lagi ada pelajaran geografi kan, aku butuh energi banyak buat ngadepin si guru killer tuh” terangku.
Gue ikut deh ya, sekalian juga.. gue ada informasi buat elo” kata Vino sok penting.

Oh iya, aku lupa mengenalkannya. Nama dia Vino, dia sahabatku sejak dari SMP. Badannya tinggi, atletis, lumayan tampan dengan hidung mancung dan kulitnya yang cerah bersih, logat bicaranya sok ke-Jakartaan. Maklum, dia penggemar FTV remaja yang ditayangkan di televisi hampir setiap hari pukul 4 sore.

“Yaudah.. ayo cepetan, keburu bel masuk Vin” kataku sambil menarik lengannya.
“Santai aja keleus, bel masuk masih 10 menit lagi” sanggah Vino dengan ogah-ogahan.

Begitu sampai di kantin, mataku langsung tertuju pada sebuah stan bakso di pojok ruangan. Kami berdua pun menuju ke stan tersebut dan memesan makanan. Ketika sedang menunggu pesanan datang, Vino tiba-tiba mengajakku bicara serius.

“Sita, gue ada info penting buat lo” kata Vino dengan serius.
“Info apa? Kalo gak penting-penting banget aku jitak kamu ya? hehe” selorohku.
Gue serius.. ada lomba bermain piano di Graha Serba Guna, hadiahnya lumayan loh Ta, dua puluh juta untuk pemenang pertama. Penyelenggara lombanya dari klub musik Victoria. Lo harus ikut Ta, kesempatan emas buat gali potensi lo, buat pengalaman lah” terang Vino dengan semangat ’45 yang menggebu-gebu.
“Aku sih mau Vin, tapi aku nggak PD.. lagipula aku bingung harus menampilkan lagu apa”
Elo kan jago mainin lagu-lagunya Mozart tuh. Terserah lo mau main Mozart Eine Kleine kek, Mozart Symphony No.22, Mozart Symphony No.40, terserah lo deh. Gue yakin lo bisa menang Ta” kata Vino menyemangatiku.

Mozart Symphony 40??”. Hatiku tersentak mendengar judul lagu itu. Aku terdiam beberapa saat. Tiba-tiba aku teringat padanya. Dia pernah memainkan lagu itu untukku. Sungguh indah melodi itu mengalun merdu di telingaku, aku masih bisa mendengarnya menggema di pikiranku. Jari-jarinya yang menari di atas tuts piano pun masih tergambar jelas di kepalaku. Indah sekali…

“Ta? Sita? Wooooiii!!” Vino mengagetkanku.
“AAAaa! Aapaan sih! Kaget tau!” omelku sebal.
“Bel masuk udah bunyi tuh.. jangan ngelamun mulu, kita kudu masuk kelas nih”

Tanganku langsung digandeng Vino dan langsung ditariknya. Kami berdua pun berlari menuju ke kelas dan bersiap mengikuti pelajaran. Namun, bayangan itu belum beranjak dari pikiranku. Dia masih disana. Aku terus memikirkannya.

***

Kriiiiiiiinggg… Kriiingggg… Kriiiiiiiiiiiiiiinnngg….

Bel sekolah berbunyi. Itu tandanya, pelajaran telah usai dan kami boleh beranjak pulang ke rumah. Seperti biasa, aku pulang diantar Vino. Sesampainya dirumah, aku terkejut melihat mamaku terduduk lemas di kursi teras, aku pun segera menghampirinya.

“Mama? Mama kok nangis? Debtcollector itu datang lagi ya ma?” tanyaku dengan kaget.
“Ah, mama gak apa-apa kok sayang. Kamu nggak usah mikirin debtcollector itu, tugasmu itu belajar yang rajin, biar mama yang memikirkan hutang-hutang almarhum papa” kata Mama sambil sedikit terisak.

Aku pun membimbing mama ke kamar untuk istirahat dan membuatkannya sup ayam. Mamaku sering membuatkanku sup ayam ketika aku terbaring sakit, rasanya yang gurih dan hangat membuatku merasa lebih baik. “Aku harus membantu Mama, kasihan dia” ucapku yang teringat akan masalah hutang yang membelit keluarga kami.

Lalu aku menuju ruang keluarga dan mulai berlatih. Aku memainkan lagu Mozart Symphony 40. Saat memainkan lagu itu, aku teringat dia. Remaja laki-laki berwajah manis yang kupanggil Dean. Dia sering memainkan lagu ini untukku. Dia sabar dan penuh perhatian. Walau seringkali aku tak memperhatikannya sehingga aku tak dapat memainkan lagu Mozart ini dengan sempurna. Tapi, sekarang hanya aku sendiri.. dia pergi.. meninggalkanku. Tiba-tiba air mataku menetes, jari-jariku yang menari diatas tuts piano terasa panas. Dahulu ataupun sekarang, ternyata aku masih belum bisa memainkannya dengan sempurna. “Aku nggak bisa! Aku nggak bisa!! Dean.. kamu kemana?”

***

“Ta? Gimana? Jadi ikut lomba itu kan?” tanya Vino sambil melahap es krim coklat kesukaannya.
“Entah.. aku ragu Vin, aku gak pede. Lagipula permainanku belum bagus” jawabku.
“Kalo latihan terus pasti bakal bagus kok Ta, gue yakin seyakin-yakinnya meskipun kurang yakin seratus persen, demi membuat keyakinan lo tumbuh, gue berusaha yakin untuk meyakinkan lo kalo lo itu bisa!”.
“Banyak amat “yakin”-nya??. Yaudah, aku ikut. Tapi kamu temenin aku latihan ya?”.
“Waduh Ta, sorry banget yah? Gue ada pertandingan basket minggu depan. Lo latihan sendiri aja ya?”.
“Asem! Aku gak ikut deh! kamu gak setia kawan, masa gak mau nemenin temennya latihan? Aku pulang aja” kataku berlalu meninggalkan Vino yang sibuk dengan es krimnya.

Sesampainya di rumah, aku terkejut melihat barang-barang di depan rumah berserakan. Tiba-tiba Mamaku jatuh tersungkur ke teras sambil menangis. Aku pun berlari menghampirinya.

“Ma! Mama?! Mama gak apa-apa kan? Mama, jangan nangis” kataku sambil menghapus air mata Mama.

“Kalo gak bisa bayar jangan utang! Suamimu itu meminjam uang banyak tapi malah gak bayar! Sekarang kamu bayar dengan seluruh bunganya!” teriak salah seorang debtcollector.

“Bapak jangan kasar ya sama Mama saya! Saya akan bayar hutang-hutangnya seminggu lagi. Saya janji.. tapi tolong bapak-bapak semua keluar dari rumah saya!” ucapku lantang setengah terisak.

“Kalo kamu gak bisa bayar, minggu depan kalian keluar dari rumah ini!” ancam debtcollector itu sambil berlalu meninggalkan kami yang tersungkur di teras.

“Mama jangan khawatir, aku akan bantu Mama cari uang” kataku sambil mengusap air mata mama.

Aku tak tahu lagi harus bagaimana, pikiranku benar-benar kacau. Satu-satunya jalan adalah mengikuti lomba itu. “Aku harus bisa” gumamku.. “Aku harus bisa demi Mama”.

***

Tekadku sudah bulat. Aku berlatih terus tanpa henti, hanya diiringi detak jarum jam, ditemani segelas coklat panas bikinan Mama. Aku terus berlatih.. berlatih.. dan berlatih. Rasanya hanya kata itu yang terprogram di dalam kepalaku. Hari demi hari aku terus berlatih. Walau tak seorang pun menyemangatiku, aku tak merasa sedih sama sekali. Karena setiap pagi ada yang mengirimkan kartu ucapan semangat untukku. Aku tak tahu dia siapa, entahlah.. mungkin Vino atau mungkin pengagum rahasiaku. Tapi semua itu cukup membuatku tegar dan bersemangat untuk berlatih. Hingga tiba saatnya, lomba itu dimulai.

“Luar biasa pertunjukan dari peserta nomor 21! Beri tepuk tangan yang meriah!.. baiklah, peserta nomor 22 akan memainkan satu lagu dari Mozart, Symphony No.40” kata pembawa acara mengumumkan giliranku.

“Fiuuuhhh… aku harus bisa. Tuhan, tolong berkatilah anak-Mu. Amin” doaku seraya mengontrol rasa gugup yang membuncah begitu hebat.

Aku pun memasuki panggung dan bersiap di samping piano. Aku letakkan jari-jariku diatas tuts piano dan mulai memainkannya. Aku mulai gugup. Tetapi mendengar melodi yang ku mainkan ini, membuat perasaan itu kembali lagi. Perasaan hangat kembali menyelimuti kaki dan tanganku. Bayangan wajah Dean ada di benakku. Yang ku ingat adalah saat kita berdua bersepeda melewati kebun teh, lalu beristirahat di gubuk aneh di dekat rumahku, berlatih piano bersama, dan main basket bersama. Semua itu seperti rangkaian film yang diputar di otakku, terlintas jelas di depan mataku. Tak terasa jari-jariku dengan indah dan begitu gemulainya menari begitu lincah di atas tuts piano. Aku memainkannya dengan sempurna! Aku sungguh tak percaya. “Terima kasih ya Tuhan….”

Aku begitu senang, aku dapat memainkan lagu itu dengan sempurna, dan kini tinggal menunggu pengumuman pemenang.

“Akhirnya sampailah kita di penghujung acara lomba ini, juri telah selesai berdiskusi dan menentukan siapa juaranya. Baiklah.. juara ketiga diraih oleh…peserta nomor 18, atas nama  Florencia Angel”

Jantungku berdegup kencang, bagai kuda diarena pacuan. Tubuhku bergetar, aku cemas sekali. Lantunan doa tak henti-hentinya menggema di dalam hati.

“Juara kedua diraih oleh…. Peserta nomor 14, atas nama Geovanda Widiastuti”

Ternyata juara kedua bukanlah aku, dan nampaknya juara satu tak mungkin kuraih. Aku sempat putus asa dan berpikir aku telah gagal, sampai pada akhirnya…

“Juara pertama diraih oleh… peserta nomor 22, atas nama Desita Natalia Gabriela” kata pembawa acara menyebutkan namaku.

“Yeeeeeeyyy!! Aku bisa, aku menang!, aku bisa Mama.. aku bisa Dean” teriakku dalam hati. −kalau ini bukan acara yang formal, mungkin aku sudah berteriak kegirangan.

Aku tak menyangka aku memenangkan lomba itu. Aku sungguh sangat bersyukur. Akhirnya hutang-hutang keluargaku dapat terlunasi. Dan dalam hati kecilku, aku berharap Dean disini, aku ingin menunjukkan padanya bahwa aku telah berhasil memainkan lagu itu dengan sempurna, persis seperti yang ia harapkan. “Dean.. Dean Seamus.. dimanakah kamu sekarang?”

***

Aku lega, kini debtcollector itu tak datang lagi. Hidupku dan keluargaku kembali tenang. Walau hati ini masih bergemuruh, tapi aku senang sekali semuanya telah kembali normal. Tiba-tiba aku melihat bayangan seorang laki-laki di gubuk dekat rumah. Aku penasaran, tampaknya dia gusar, sedang mencari sesuatu, menunggu sesuatu, atau mungkin memikirkan sesuatu. Entahlah.. aku merasa dia tidak asing bagiku, dan  aku pun memberanikan diri menghampirinya.

“Dean?!.. kamu kah itu? Dean Seamus??!!” kataku kaget.
Yes sweetie, It’s me.. I’m back for you dear.” Jawab Dean dengan senyum manis di wajahnya.
“Kemana kamu selama ini!? Aku mencarimu kemana-mana! Kenapa kamu ninggalin aku begitu saja?! Kamu jahat!” kataku berlinang air mata.
“Aku pergi ke Jakarta. Aku sakit. Kanker sum-sum tulang belakang Ta, aku rahasiakan ini karena aku gak mau kamu khawatir. Tapi, sekarang aku udah disini kan? Aku akan nemenin kamu terus selama yang kamu mau” kata Dean, tangannya memegang erat tanganku dan berusaha menenangkanku.
“Jangan tinggalin aku lagi ya?” isakku.
“Pasti sayang.. Aku gak akan ninggalin kamu lagi. Aku akan selalu dihatimu”

***

Akhirnya hidupku benar-benar sempurna, Dean kembali padaku. Aku sungguh bahagia. Kami berdua sering jalan-jalan bersama, nonton film, minum coklat panas sambil bermain permainan monopoli. Dan sekarang aku pun pergi ke taman hiburan bersamanya. Sungguh menyenangkan rasanya.

“Ta, naik kincir ria yuk.. Pasti seru deh” ajak Dean
“Nggak, kita istirahat dulu aja.. mukamu pucat tuh, kamu kelihatan capek” kataku menolak.
“Ayolah Ta, aku ingin naik itu, pasti bagus pemandangan diatas sana” rayu Dean
“Baiklah..” kataku yang akhirnya luluh oleh rayuannya.

Kami pun segera naik kincir ria. Semakin lama semakin tinggi, dan kini kami berhenti tepat diposisi paling tinggi.

“Ta, terima kasih ya? Kamu udah buat sisa-sisa hariku begitu menyenangkan, aku takkan mungkin bisa melupakannya” kata Dean sambil menyadarkan kepalanya di bahuku.
“Sama-sama Dean” jawabku sambil mengusap lembut rambutnya.
“Oya, selamat ya Ta, akhirnya symphony No.40 itu berhasil kamu mainkan dengan sempurna, aku bangga sama kamu” ucap Dean lembut.
“Darimana kamu tahu?” kataku terheran.
“Selama ini yang mengirim kartu ucapan semangat itu aku, dan aku pun datang ke acara itu, aku melihatmu bermain dan akhirnya memenangkan lomba itu. Aku senang melihatmu bermain, aku ingin kamu memainkan itu di hari terakhirku”
“maksudmu apa Dean?” kataku terkejut, aku tak mengerti apa yang dimaksud olehnya.
“Dean?… Dean?” Namun Dean tak menjawab, dia tertidur. Dia tidur untuk selamanya.

Dihari pemakaman Dean, Aku memainkan lagu itu untuknya. Seperti yang diinginkannya.
“Aku persembahkan Mozart Symphony 40 ini untukmu Dean, selamat jalan. Jari-jari ini takkan pernah berhenti memainkan sebuah lagu untukmu. Untuk kenangan yang terlalu indah tuk dilupakan. Untuk seruan semangat yang menggema dihati. Untuk harmoni melodi seindah simphoni”

-TAMAT-

Kemungkinan Cinta

Ini adalah awal dari ceritaku. Sebuah cerita tentang hal kecil yang mengubah hidup dan pribadiku, membuat dunia kecilku tampak indah seperti taman di negeri dongeng yang selalu aku dambakan disetiap mimpiku.

Hal kecil yang disebut CINTA…

Aku tak tahu apa ini layak disebut cerpen, novel, deskripsi atau apalah namanya itu, tapi aku ingin menuliskan kisah cinta anehku. Kalau dipikir-pikir, yang satu ini yang membuatku bingung dan penasaran─yah, kau tahu maksudku (kuharap begitu )

***************

Namanya Reyo, murid kelas 9.1 di SMPN 1 Tunas Bangsa. Tinggi, bertampang manis, pintar dan agak cuek menurutku (itu menurutku lhoo), saat itu aku masih kelas 8, 8B tepatnya.

Berada dikelas yang terkenal nakal, heboh, gak pinter amat tapi kompak ini gak terlalu buruk kok, kau bisa mendapatkan teman sejati dan sehati disini, yah selama kau bisa membaur dengan baik─tentu saja. Oke,kita mulai ceritanya.. (ctik..ctik)

Hari itu aku menjalani UAS terakhirku, aku duduk disebelah cowok yang udah kuceritain di paragraf diatas tadi, duduk disebelah cowok yang udah ku kagumi dari kelas 6 SD itu ternyata luar biasa rasanya, jantungku semakin cepat berdetak seperti derap langkah kuda di arena pacuan. Yah kau tahu, selama ini aku mengamatinya secara diam-diam dan rahasia, tak ada satu orang pun yang tahu kecuali diriku sendiri, sampai akhirnya..

“ada apa Ga? Dicuekin lagi?” tanyaku.

“nggak sih Nat, aku lagi galau aja” balas Iga singkat.

“emang kenapa lagi sih? Aldo lagi yaa? Hahaha.. Iga.. Iga, gak ada bosen-bosennya lu sama tuh anak”

“apa.an sih Nat, jelas kagak bosen laa, secara gitu.. dia ganteng badai plus pinter.. plus putih.. plus..”

“iya-iya non gak usah diterusin, aku masih hafal liriknya kok” kataku menyela omongan Iga yang nyerocos lurus mirip kereta express di stasiun bawah tanah London.

“Nat, lagi liatin apaan sih?”

“biasa lah, temennya si ganteng -mu itu” kataku sambil tersenyum.

“gila, betah amat sih suka sama dia.. hahaha! Oya, aku tahu.. ntar lagi Aldo and Reyo-mu itu lulus kan? Gimana kalo kita taruhan aja? Siapa yang bisa dapetin cowok idamannya sebelum dia lulus bakal ditraktir bakso pak Bas sampe perut meletus dah.. gimana? Deal?”

“taruhan yang aneh.. tapi gue ikut deh, deal” jawabku tanpa pikir panjang.

Setelah itu, bel masuk berbunyi, dan esoknya.. perjuangan dimulai hehehe.. 😀

Pagi-pagi sekali aku sudah menampakkan batang hidungku di sekolahku yang tercinta ini. sambil termenung, aku duduk bagaikan patung kucing melambai yang sedang mengharapkan keberuntungan, dan ternyata… seseorang yang kutunggu akhirnya datang juga.

Dengan gagahnya Reyo melangkah melewati gerbang sekolah, berjalan dengan gaya cool-nya, dia melintas didepanku sembari meninggalkan bekas parfumnya yang maskulin itu, membuatku terhipnotis karenanya (beneran lho, gak bohong gue)

“ganteng juga nih cowok, coba gue bisa dapetin elu” gumamku dalam hati.

“woiiii, Nathly!!! Bengong aje lu” kata Iga yang langsung nyamber bak petir disiang bolong.

“udah nyerang Nat? Kalo aku sih udah dapet nomer telfonnya..hahaha, kayaknya aku yang bakal menang neh” sambung Iga dengan bangganya

“nggak, aku belum ada persiapan, aku aja masih mau nyari strategi yang pas biar dia suka sama aku” jawabku singkat. (menurut aku itu singkat ^_^)

“oh yaa? Lagi nyari apa masih takut? Hayooo, jujur aja dah” Iga meledekku.

“eh, enak aja kalo ngomong! Siapa juga yang takut.. entar nih ya, kalo aku menang, bakal lu rasain tuh, tekor duit gara-gara traktirin aku bakso”

“eh..eh..eh, bisa ngancem juga nih anak, oke deh.. gue jabanin”

Malam harinya, aku sibuk mengotak-atik handphone-ku, mencari kontak nomor seseorang yang bisa menjadi sumber informasiku, dan gak lama kemudian─setelah sepuluh menit tepatnya─aku menemukannya. Ku gerakkan jariku menekan tombol opsi “More” lalu tancap gas menuju opsi “Send Message” dan akhirnya perjuangan aku dimulai dari sini (dari tadi gak mulai-mulai soalnya -_- ).

To: Mb@k El-El

MET MALEM.. AQ NATHLY MBAK, AKU BOLEH MINTA NOMER2.NYA KAKAK KELAS GAK? GAK SEMUANYA SIH, CUMA TEMEN P.A.K DOANG

Sepuluh menit kemudian…

[ringtone “Bad Romance” berbunyi]

From: Mb@k El-El

BUAT APA EMANGNYA DEK?

To: Mb@k El-El

            GA  APA-APA SIH.. CUMA MAU NGASIH SEMANGAT AJA BUAT YANG MAU UJIAN J

Sepuluh menit kemudian… (oke..oke, udah cukup “sepuluh menitnya”)

“Ah.. Udah dikirim semua nomornya” ucapku dengan takjub.

“harus buru-buru nih” kataku dalam hati.

To: All class 9

BUAT KAKAK-KAKAK YANG MAU UJIAN,, SEMANGAAT YA? 😀
JANGAN LUPA BERDOA YAA? BAWA OLEH2 NILAI YANG BAGUS YAA? SEMANGAAT BUAT KAKAK SEMUANYAA :3
BERJUANGLAH! 😉

FR: NATHLY.

Iya, aku tahu itu sedikit lebay dan sok care, tapi gak lama setelah itu, handphone-ku berdering lagi, dan ternyataaa..

From: ReYo_BlingBling

            IYA ADEK, MAKASIH YA UDAH DI KASIH SEMANGAT 😉
OH YA, KAMU KETUA P.A.K YANG BARU KAN? GIMANA RASANYA JADI KETUA YANG BARU? HEHEHE 😀

Yup, kalian bener, Reyo balas SMS-ku. Aku senang sekali, ini langkah awal yang cukup baik menurutku dan aku pun tidak menyia-nyiakannya.
aku balas SMS Reyo, dan kami pun mulai akrab dan sering kirim SMS sejak saat itu. Ah.. Hari yang sungguh menyenangkan.

****************************

Esok harinya adalah hari dimana Reyo Dkk akan berjuang melawan kumpulan soal mematika yang menentukan hidup dan mati mereka-yah kau tahu-ku sebut itu sebagai Ujian Nasional.. dan pada hari itu juga, pagi-pagi sekali aku sudah bangun dan bersiap untuk berangkat ke sekolah untuk membersihkan ruang kelas sebelum dipakai ujian. Aku ingin menjadi relawan bersih-bersih bukan karna aku cinta lingkungan, tapi karna modus juga sebenernya (hehe)

“Eh, Nat.. tuh pangeran kodok lu dateng tuh” kata Iga tiba-tiba.

“Mana sih? Gak keliatan gue”

“Itu.. barusan lewat di sampingmu tuh” kata Iga sambil menunjuk-nunjuk posisi dimana Reyo berada.

Reyo lewat disampingku dengan gayanya yang maskulin, tapi.. ia tidak berpaling padaku, entahlah.. mungkin dia tidak melihatku (cukup kalian tahu, aku berbadan kecil dan imut)

“Sabar yah Nat, mungkin dia lagi nervous, sampe gak liat kamu disini” kata Iga mencoba menenangkan.

“Iya ga, aku tahu, dia ramah kok sebetulnya dan suatu saat nanti, dia akan berpaling padaku” kataku optimis.

“Amiin, gue doain deh.. eh, tapi kalo gitu gue kalah dong, ah, kagak mau ah”

“haha, doain temen pake perhitungan lu, dasar!.. yuk ah, kita pulang..”

“okee bos! Siap”

Aku tak tahu apa yang terjadi padanya, setahuku dia ramah padaku selama 5 hari ini, mungkin karena ia gugup, atau mungkin memang sengaja tak melihatku, tapi.. apa salahku? Dia memang misterius dan sulit ditebak, walaupun begitu semangat ’45-ku untuk mendapatkannya tak akan pernah pudar (Berjuanglah Nat! :D)

**************************

Kalau dihitung-hitung, sudah satu minggu aku PDKT dengan Reyo, apapun akan kulakukan demi menarik perhatiannya, mulai dari membersihkan ruangan kelas yang akan dipakainya ujian, berpura-pura ijin ke kamar mandi hanya untuk berusaha lewat di depan kelasnya, dan masih banyak lagi dan selama itu pula satu demi satu keajaiban terjadi..
Di suatu malam yang indah, bertabur bintang, bulan bersinar cerah dan dilengkapi dengan jagung bakar bikinan mama, aku masih sibuk-sibuknya berkirim SMS dengan Reyo, entah kenapa tiba-tiba jantungku berdetak.. saat dia mengirimkan sesuatu padaku

[ringtone “Bad Romance” berbunyi]

From: ReYo_BlingBling

PUTRI BEBEK, AKU PUNYA CERITA.. BACA CERITAKU BENTAR YAA? 😀
GINI CERITANYA..
DAHULU KALA,  ADA SEORANG PANGERAN YANG SANGAT KESEPIAN, PANGERAN ITU SANGAT SEDIH DAN INGIN SEKALI MENDAPATKAN TEMAN, LALU GAK LAMA KEMUDIAN, DATANGLAH SEORANG PUTRI YANG MASUK KE DALAM KEHIDUPAN SANG PANGERAN.. MEMBUAT PANGERAN TERSEBUT CERIA DAN GAK KESEPIAN LAGI, KARENA KELEMBUTAN DAN KECERIAAN YANG PUTRI BAWA, AKHIRNYA PANGERAN PUN JATUH CINTA PADA SANG PUTRI,PANGERAN ITU PUN BERTANYA, MAUKAH PUTRI MENJADI PENDAMPINGKU? YANG SETIA MENEMANIKU SELAMANYA?

JIKA PANGERAN ITU ADALAH “AKU” DAN PUTRI ITU ADALAH “KAMU”,  APA YANG AKAN DIJAWAB PUTRI ITU? YA ATAU TIDAK?

Jantungku berdegup kencang, aku terkejut sekali membaca pesannya.. akhirnya, perjuanganku tidaklah sia-sia, apa yang kuharapkan akhirnya terwujud juga.. tanpa basa-basi lagi aku langsung menjawabnya

To: ReYo_BlingBling

PUTRI ITU MENGATAKAN KALAU IA MENYUKAI PANGERAN DAN BERSEDIA MENJADI PENDAMPING PANGERAN

From: ReYo_BlingBling

MAKASIH PUTRI BEBEK :3

I’II ALWAYS LOVE YOU, N NO MATTER CAN’T STOP ME

**********************************

Sejak saat itu kami pun berpacaran, sungguh saat yang menyenangkan.. tapi disisi lain sahabat aku, Iga tekor duit gara-gara traktir aku bakso sebanyak yang kumau (hehehe), hubungan aku dan Reyo berjalan sempurna, kami sering jalan-jalan, lunch bareng, pergi nonton dll. Namun hubungan bahagia kami tak berjalan lama, setelah Reyo masuk SMA kami sering bertengkar dan akhirnya putus, sejak saat itu aku tak mendapat kabar darinya lagi.

“Eh, Iga.. ada apa ga? Tumben dateng kerumah?”

“Kata Lina adik-mu, kakaknya lagi  galau, dia terus mendengar musik selama seminggu penuh, kupikir kamu udah lupain dia, ternyata belum ya?” kata Iga menghampiriku

“Entahlah, aku tak bisa lepas dari bayang-bayangnya, gak ada yang bisa gantikan dia”

“ayolah, kau sudah menangis tiga hari berturut-turut, sebentar lagi kita kan masuk SMA, cerialah sedikit saja”

“ya, akan ku coba” kataku sambil tersenyum.

Aku melalui Ujian dengan keadaan hati yang sangat parah kondisinya, aku berjuang agar aku bisa masuk di SMA yang sama dengannya, harus kuakui kalau aku sulit untuk jauh darinya, walaupun sudah satu tahun kita putus,walau aku mendapatkan pacar baru, tapi.. aku tetap menyayanginya. Singkat cerita, akupun berhasil masuk di SMA yang sama, aku melihatnya, dan semangat ’45-ku yang dulu kembali berkobar.. aku melakukan apapun agar dia kembali padaku, aku ikut ekstra paduan suara, bergabung dalam tim Cheerleader, bermain ludruk dan masih banyak lagi, semua itu kulakukan untuknya. Awalnya hubungan kami mulai membaik, namun keadaan berkata lain..

“Nathly.. aku gak bisa balikan lagi seperti dulu, aku sudah ada yang punya.. aku gak bisa meninggalkannya.. aku memilih dia.. Maaf..” kata Reyo sambil mengusap air mata yang berlinang di pipiku.

“baiklah, aku takkan mengganggumu lagi, berbahagialah dengan pacar barumu”

Hatiku hancur untuk kedua kalinya, tapi tetap saja bayangannya selalu ada dalam benakku, aku takut untuk membuka hatiku lagi, kini aku hanya berdiam diri, menjalani hari tanpa senyuman diwajahku
Inilah akhir dari kisah cintaku─kurasa begitu.

Sudah berbulan-bulan semenjak kejadian itu aku terus murung..  aku berusaha membuka lembaran yang baru, walau hidupku tak se-ceria yang dulu, tapi aku berusaha melupakannya, berusaha hidup tanpa seorangpun disisiku..
aku berjalan menuju halte pagi ini, menunggu angkutan umum yang akan membawaku ke sekolah, dan tak lama kemudian aku pun sampai disekolah.. aku berjalan menuju kelasku, tiba-tiba.. langkahku terhenti saat kulihat seseorang berdiri didepan kelas-ku sambil membawa bunga Aster kesukaanku─dan kau pun benar─seseorang itu adalah Reyo.

“Aku kembali putri-ku yang cantik” katanya sembari memberikan bunga Aster itu padaku

“Apa maksudmu? Aku gak ngerti, bukannya kamu udah pilih Kania?”

“Kania putusin aku Nat.. Entah alasannya apa, tapi aku lega dia udah putusin aku”

“Ah? Apa? Kenapa bisa lega? Harusnya kamu sedih dong diputusin cewek secantik dia”

“Nathly.. Bebekku yang cantik.. sebenernya dari dulu aku selalu sayang sama kamu, sebenernya aku gak berniat putusin kamu, tapi.. melihat sahabatku Gio mendekatimu, aku pikir aku bukan yang terbaik untukmu, lalu aku mulai dekat dengan Kania, dan membuatnya menjadi pelarianku semata, aku masih menyayangimu, dan akan selalu begitu”

“tapi.. kenapa waktu itu kamu pilih Kania?”

“aku cuma takut dia sakit hati, aku merasa bersalah padanya dan kamu tahu kalau dia sangat egois.. aku gak mau ada dendam dihatinya.. aku tahu keputusanku membuatmu sakit hati dan kecewa.. aku bodoh udah ngorbanin perasaanmu.. maafin aku ya sayang?”

“aku maafin kamu kok, tapi kalo kamu pergi untuk ketiga kalinya, aku gak mau maafin kamu lagi”

“iya.. aku janji.. aku gak akan pernah ninggalin kamu lagi.. you’re always be my baby”

Untuk kedua kalinya aku merasakan perasaan itu.. anugrah dari Tuhan yang kusebut CINTA. Mungkin aku hadir demi dirimu.. takdir memang 100% kemungkinan.. disekian banyak orang, aku bertemu denganmu. TAMAT